Tuesday, January 22, 2013

Indikator Makro Ekonomi Indonesia di tahun 2012


oleh : Abdul Ramli
Fakta menyebutkan bahwa Kekayaan global dunia sebanyak 44% dikuasai oleh 1% populasi dunia, sedangkan 56% lainnya diperebutkan oleh 99% populasi dunia. “Hal ini diakibatkan dengan diterapkannya sistem ekonomi kapitalis, sehingga terjadi ketimpangan yang sangat jauh antara si kaya dengan si miskin, Sistem ekonomi kapitalis juga menjadikan hutang dan riba sebagai suatu yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan masyarakat didunia, terlebih pencetakan mata uang baru yang tidak dibackup oleh emas, sehingga menyebabkan peredaran uang tidak terkontrol dan terjadilah inflasi secara terus menerus.
Indonesia juga perlu mengantisipasi dampak krisis Eropa dan Amerika Serikat yang
diperkirakan terasa pada semester I-2012. Krisis yang melanda Eropa bak tsunami diperkirakan akan memangkas proyeksi pertumbuhan Eropa dan AS. Kendati angka-angka indikator makro ekonomi Indonesia berada dalam kondisi relatif ‘aman’, apakah ekonomi Indonesia sudah memiliki fondasi yang kuat dalam jangka menengah menghadapi krisis global?
Krisis Eropa-AS diperkirakan mengganggu kinerja ekspor nasional. Selama ini, pasar Eropa dan AS masing-masing menyumbang 13,3% dan 10% dari total ekspor nonmigas selama Januari-Juli 2011. Industri tekstil, garmen, dan produk tekstil diproyeksikan sebagai sektor yang paling terpukul akibat krisis Eropa-AS.
Berdasarkan kenaikan produk domestik bruto (PDB), pada kuartal III-2011, ekonomi Indonesia tumbuh 3,5% dibandingkan kuartal II-2011 (q to q). Jika dibandingkan dengan kuartal III-2010, ekonomi Indonesia tumbuh 6,5%. Pertumbuhan 6,5% itu terutama dipengaruhi oleh kenaikan sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang mencapai 10,1%. Selanjutnya diikuti oleh sektor pengangkutan dan komunikasi yang tumbuh 9,5% dan jasa-jasa 7,8%. Dalam periode tersebut, sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan tumbuh 7%, sedangkan sektor industri pengolahan meningkat 6,6%.
Sektor konstruksi tumbuh 6,4%. Sementara itu, sektor listrik, gas, dan air bersih  tumbuh 5,2%. Sementara itu, sektor pertanian hanya tumbuh 2,7% dan pertambangan-penggalian 0,3%. Hingga kuartal III-2011, struktur ekonomi Indonesia masih didominasi sektor industri manufaktur, pertanian, dan perdagangan-hotelrestoran. Sejak 1970-an hingga sekarang, industri manufaktur adalah penggerak utama PDB dan ekspor nonmigas Indonesia. Sejak 2000 hingga kuartal III-2011, peranan sektor industri manufaktur mencapai 23,9-28% PDB, sementara sektor pertanian hanya menyumbang 14-16%. Ekspor industri manufaktur menyumbang 83-85% ekspor nonmigas dan 64-67% total ekspor Indonesia selama 1994-2011.

Sektor riil masih “terseok-seok”, dengan laju pertumbuhan rendah dan pangsa pasar yang menurun. Di tengah lesunya permintaan luar negeri, sudah saatnya menggarap pasar domestik lebih intensif. Pasar domestik pun dapat menjadi peluang untuk menyerap produk-produk berkualitas tersebut serta dapat menghambat gempuran produk ilegal dari Tiongkok, India, dan Vietnam. pemerintah perlu mengakomodasi semua usulan yang disampaikan tiap sektor, Kadin, dan asosiasi bisnis. Inilah saatnya mengimplementasikan kebijakan pembangunan industri nasional versi pemerintah dan Road Map Industri Kadin. Untuk itu, paket-paket kebijakan perlu diperluas dan dipertajam. Pemerintah perlu memprioritaskan pada kegiatan ekonomi yang menyerap banyak lapangan kerja secara signifikan, kegiatan yang mampu sebagai fondasi dan penggerak pertumbuhan ekonomi, sektor yang berorientasi ekspor, dan UMKM yang terkena dampak krisis global maupun bencana alam.
Akhirnya, stimulus ekonomi baik fiskal maupun moneter harus dimulai pada awal semester I-2012. Akselerasi implementasi kebijakan makro, sektoral, dan daerah yang merespons krisis global perlu dijadikan agenda dan kegiatan utama. Bila penyerapan/pencairan APBN dan APBD pada akhir kuartal 2012, kekhawatiran gelombang PHK, dan hancurnya sektor riil bukan hanya mitos, namun menjadi kenyataan.
Disisi lain terkait inflasi dan distribusi kekayaan yang tidak merata, bila tahun 2012 terjadi inflasi 5 %, maka value dari uang yang kita punya akan menurun, namun bagi para kaum kapitalis yang menanamkan deposito di bank bunga yang didapatnyapun akan tetap bertambah, sesuai besaran inflasi yang terjadi. Lalu kemanakah nilai uang kita sebanyak lima persen menghilang?? Jelas uang lima persen kita yang menghilang valuenya. System uang kertas sesungguhnya adalah uang palsu yang memiliki nilai jika di cetak oleh Negara, sementara kertas tersebut tak bernilai jika bukan Negara yang mencetaknya. Uang kertas yang ditimbun nilainya akan berkurang setiap tahunnya. Inilah kebobrokan system kapitalisme yang di emban dinegara ini. Berbeda dengan emas (dinar) yang nilainya selalu akan meningkat setiap tahunnya. Namun system Uang Dinar hanya ada dalam system islam. Namun dalam sistem ekonomi Islam, menimbun harta adalah sesuatu yang dilarang, karena agar harta yang dimiliki bisa produktif dan bisa beredar dimasyarakat, sehingga kuatnya sektor ekonomi riil, berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis yang lebih cenderung memilih ekonomi pada sektor non riil. selama ini kita telah dibodohi oleh kaum kapitalis, yakni Amerika dan sekutunya, karena mereka memberikan kita pinjaman dalam bentuk dolar (uang kertas) yang merupakan uang palsu yang dilegalkan. Sedangkan Indonesia harus membayar dengan tambang-tambang emas, minyak, batu bara dan sebagainya yang merupakan sektor yang sangat riil dalam membangun ekonomi Indonesia.
“Inilah yang menyebabkan rakyat Indonesia miskin, mereka bukan orang-orangnya yang malas, lihat saja realita membuktikan rakyat Indonesia itu adalah rakyat yang rajin dan pekerja keras, banyak berita  namun kemiskinan di Indonesia adalah kemiskinan yang sistemik, atau program ‘miskinisasi’ kaum kapitalis yang serakah, Dan program miskinisasi ini akan terus berlanjut, apabila sistem Demokrasi Kapitalis masih diterapkan di Indonesia. Oleh karena itu, solusi yang nyata adalah kembali kepada Islam Rahmatan Lil Alamin dan mengkubur dalam-dalam sistem ekonomi kapitalisme. perubahan kearah Indonesia yang lebih baik hanya bisa terjadi jika Islam lah yang menjadi sandaran perjuangan, bukan ikatan lainnya seperti nasionalisme, sukuisme ataupun maslahat. Sudah saatnya rakyat dan umat islam ini sadar bahwa mereka harus merealisasikan keimanan mereka dengan menjadikan keimanan menjadi dasar setiap aktifitas yaitu dengan menjadikan islam sebagai dasar dari berbagai system kehidupan.
“Saatnya mengembalikan kemakmuran ummat dengan dinar, dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyyah,”

1 comment:

  1. kita juga punya nih artikel mengenai 'Indikator Makroekonomi', silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/6265/1/JURNAL%20SKRIPSI.pdf
    terimakasih

    ReplyDelete

Daftarkan Blog anda Disini Untuk berbagi